Saturday, 25 January 2014

MOTIVASI BELAJAR




Dalam dunia pendidikan, terutama dalam kelangsungan dan keberhasilan proses belajar mengajar bukan hanya dipengaruhi oleh faktor intelektual saja, melainkan juga oleh faktor-faktor nonintelektual lain yang tidak kalah penting dalam menentukan hasil belajar seseorang, salah satunya adalah kemampuan seseorang siswa untuk memotivasi dirinya. Mengutip pendapat Daniel Goleman (2004: 44), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.
Motivasi sangat penting artinya dalam kegiatan belajar, sebab adanya motivasi mendorong semangat belajar dan sebaliknya kurang adanya motivasi akan melemahkan semangat belajar. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar; seorang siswa yang belajar tanpa motivasi (atau kurang motivasi) tidak akan berhasil dengan maksimal.

Motivasi memegang peranan yang amat penting dalam belajar, Maslow (1945) dengan teori kebutuhannya, menggambarkan hubungan hirarkhis dan berbagai kebutuhan, di ranah kebutuhan pertama merupakan dasar untuk timbul kebutuhan berikutnya. Jika kebutuhan pertama telah terpuaskan, barulah manusia mulai ada keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang selanjutnya. Pada kondisi tertentu akan timbul kebutuhan yang tumpang tindih, contohnya adalah orang ingin makan bukan karena lapar tetapi karena ada kebutuhan lain yang mendorongnya. Jika suatu kebutuhan telah terpenuhi atau perpuaskan, itu tidak berarti bahwa kebutuhan tesebut tidak akan muncul lagi untuk selamanya, tetapi kepuasan itu hanya untuk sementara waktu saja. Manusia yang dikuasai oleh kebutuhan yang tidak terpuaskan akan termotivasi untuk melakukan kegiatan guna memuaskan kebutuhan tersebut (Maslow, 1954).

Dalam implikasinya pada dunia belajar, siswa atau pelajar yang lapar tidak akan termotivasi secara penuh dalam belajar. Setelah kebutuhan yang bersifat fisik terpenuhi, maka meningkat pada kebutuhan tingkat berikutnya adalah rasa aman. Sebagai contoh adalah seorang siswa yang merasa terancam atau dikucilkan baik oleh siswa lain mapun gurunya, maka ia tidak akan termotivasi dengan baik dalam belajar. Ada kebutuhan yang disebut harga diri, yaitu kebutuhan untuk merasa dipentingkan dan dihargai. Seseorang siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga dirinya, maka dia akan percaya diri, merasa berharga, marasa kuat, merasa mampu/bisa, merasa berguna dalam didupnya. Kebutuhan yang paling utama atau tertinggi yaitu jika seluruh kebutuhan secara individu terpenuhi maka akan merasa bebas untuk menampilkan seluruh potensinya secara penuh. Dasarnya untuk mengaktualisasikan sendiri meliputi kebutuhan menjadi tahu, mengerti untuk memuaskan aspek-aspek kognitif yang paling mendasar.

Guru sebagai seorang pendidik harus tahu apa yang diinginkan oleh para sisiwanya. Seperti kebutuhan untuk berprestasi, karena setiap siswa memiliki kebutuhan untuk berprestasi yang berbeda satu sama lainnya. Tidak sedikit siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah, mereka cenderung takut gagal dan tidak mau menanggung resiko dalam mencapai prestasi belajar yang tinggi. Meskipun banyak juga siswa yang memiliki motivasi untuk berprestasi yang tinggi. Siswa memiliki motivasi berprestasi tinggi kalau keinginan untuk sukses benar-benar berasal dari dalam diri sendiri. Siswa akan bekerja keras baik dalam diri sendiri maupun dalam bersaing dengan siswa lain.

Siswa yang datang ke sekolah memiliki berbagai pemahaman tentang dirinya sendiri secara keseluruhan dan pemahaman tentang kemampuan mereka sendiri khususnya. Mereka mempunyai gambaran tertentu tentang dirinya sebagai manusia dan tentang kemampuan dalam menghadapi lingkungan. Ini merupakan cap atau label yang dimiliki siswa tentang dirinya dan kemungkinannya tidak dapat dilihat oleh guru namun sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Gambaran itu mulai terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, yaitu keluarga dan teman sebaya maupun orang dewasa lainnya, dan hal ini mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.

Berdasarkan pandangan di atas dapat diambil pengertian bahwa siswa datang ke sekolah dengan gambaran tentang dirinya yang sudah terbentuk. Meskipun demikian adanya, guru tetap dapat mempengaruhi mapun membentuk gambarang siswa tentang dirinya itu, dengan tujuan agar tercapai gambarang tentang masing-masing siswa yang lebih positif. Apabila seorang guru suka mengkritik, mencela, atau bahkan merendahkan kemampuan siswa, maka siswa akn cenderung menilai diri mereka sebagai seorang yang tidak mampu berprestasi dalam belajar. Hal ini berlaku terutama bagi anak-anak TK atau SD yang masih sangat muda. Akibatnya minat belajar menjadi turun. Sebaliknya jika guru memberikan penhargaan, bersikap mendukung dalam menilai prestasi siswa, maka lebih besar kemungkinan siswa-siswa akan menilai dirinya sebagai orang yang mampu berprestasi. Penghargaan untuk berprestasi merupakan dorongan untuk memotivasi siswa untuk belajar. Dorongan intelektual adalah keinginan untuk mencapai suatu prestasi yang hebat, sedangkan dorongan untuk mencapai kesuksesan termasuk kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk berprestasi.

Mengutip pendapat Mc. Donald (Tabrani, 1992: 100), “motivation is energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction.” Motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dari perumusan yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu: 1) motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, 2) motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal), 3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Dari uraian di atas jelas kiranya bahwa motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Makin berharga tujuan itu bagi yang bersangkutan, makin kuat pula motivasinya. Jadi motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang. Penjelasan mengenai fungsi-fungsi motivasi adalah:

1. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat. Motivasi berfungsi sebagai pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.
2. Menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula jalan yang harus ditempuh.
3. Menyeleksi perbuatan. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan. (Ngalim Purwanto, 2002: 71)

Jenis-jenis motivasi
1. Motivasi intrinsik, yang timbul dari dalam diri individu, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperolah informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, keinginan diterima oleh orang lain.
2. Motivasi ekstrinsik, yang timbul akibat adanya pengaruh dari luar individu. Sperti hadiah, pujian, ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian orang mau melakukan sesuatu. (Tabrani, 1992: 120)

Lalu bagaimanakan cara untuk meningkatkan motivasi siswa agar mereka memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, khususnya bagi mereka yang memiliki motivasi rendah dalam berprestasi. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar hendaknya seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang akan dicapai siswa. Tidak cukup sampai di situ saja, tapi guru juga bisa memberikan penjelasan tentang pentingnya ilmu yang akan sangat berguna bagi masa depan seseorang, baik dengan norma agama maupun sosial. Makin jelas tujuan, maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

2. Hadiah. Berikan hadian untuk siswa-siwa yang berprestasi. Hal ini akan sangat memacu siswa untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli siswa yang telah berprestasi. Hadiah di sini tidak perlu harus yang besar dan mahal, tapi bisa menimbulkan rasa senag pada murid, sebab merasa dihargai karena prestasinya. Kecuali pada setiap akhir semester, guru bisa memberikan hadiah yang lebih istimewa (seperti buku bacaan) bagi siswa ranking 1-3.

3. Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4. Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun. Bisa dimulai dari hal yang paling kecil seperti, “beri tepuk tangan bagi si Budi…”, “kerja yang bagus…”, “wah itu kamu bisa…”.

5. Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Hukuman di sini hendaknya yang mendidik, seperti menghafal, mengerjakan soal, ataupun membuat rangkuaman. Hendaknya jangan yang bersifat fisik, seperti menyapu kelas, berdiri di depan kelas, atau lari memutari halaman sekolah. Karena ini jelas akan menganggu psikis siswa.

6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik, khususnya bagi mereka yang secara prestasi tertinggal oleh siswa lainnya. Di sini guru dituntut untuk bisa lebih jeli terhadap kondisi anak didiknya. Ingat ini bukan hanya tugas guru bimbingan konseling (BK) saja, tapi merupakan kewajiban setiap guru, sebagai orang yang telah dipercaya orang tua siswa untuk mendidik anak mereka.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Ajarkan kepada siswa cara belajar yang baik, entah itu ketika siswa belajar sendiri maupun secara kelompok. Dengan cara ini siswa diharapkan untuk lebih termotivasi dalam mengulan-ulang pelajaran ataupun menambah pemahaman dengan buku-buku yang mendukung.

8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Ini bisa dilakukan seperti pada nomor 6.

9. Menggunakan metode yang bervariasi. Guru hendaknya memilih metode belajar yang tepat dan berfariasi, yang bisa membangkitkan semangat siswa, yang tidak membuat siswa merasa jenuh, dan yang tak kalah penting adalah bisa menampung semua kepentingan siswa. Sperti Cooperative Learning, Contectual Teaching & Learning (CTL), Quantum Teaching, PAKEM, mapun yang lainnya. Karena siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda satu sama lainnya. Ada siswa yang hanya butuh 5 menit untuk memahami suatu materi, tapi ada siswa yang membutuhkan 25 menit baru ia bisa mencerna materi. Itu contoh mudahnya. Semakin banyak metode mengajar yang dikuasai oleh seorang guru, maka ia akan semakin berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.

10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Baik itu media visual maupun audio visual.

Sumber Bacaan:
Goleman, Daniel, Emitional Intelligence Kecerdasan Emosional Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ, Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.
Tabrani Rusyan, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001.









Motivation In Learning


In the world of education, especially in learning activities, as I discussed in previous writings, that the viability and success of the learning process is influenced by factors not only intellectually, but also by other factors nonintelektual is no less important in determining the outcome of one's learning , one of which is the ability to motivate his students. Citing the opinion of Daniel Goleman (2004: 44), intelligence quotient (IQ) only accounted for 20% of success, while 80% is the contribution of factors other forces, such as emotional intelligence or Emotional Quotient (EQ): the ability to motivate yourself, to overcome frustrating, impulse control, set the mood (mood), empathy and the ability to work together.

Motivation is very important in learning activities, for the encouragement of learning and motivation lack of motivation would otherwise weaken the spirit of learning. Motivation is an absolute requirement in the study; a student is learning without motivation (or lack of motivation) will not work with the maximum.

Motivation plays a very important role in learning, Maslow (1945) with the theory of needs, describing the hierarchical relationships and a variety of needs, in the realm of the first requirement is the basis for the next need arises. If the first requirement has been satisfied, then the man began to have a desire to satisfy the needs of the next. In certain situations will arise the need to overlap, for example, is people want to eat not because of hunger but because there are other needs that push. If a need has been met or perpuaskan, it does not mean that the need for proficiency level will not appear again for good, but the satisfaction is only for a short while only. Humans are controlled by unsatisfied needs will be motivated to perform activities to satisfy those needs (Maslow, 1954).

The implications for the world to learn, students or students who are hungry will not be fully motivated in learning. After the physical needs are met, then increase at the next level of needs is a sense of security. An example is a student who feels threatened or ostracized by other students mapun good teacher, so he would not be well motivated in learning. There is a need for so-called self-esteem, which is overlooked and needs to feel appreciated. A person who has met the needs of student self-esteem, then he will be confident, to feel valuable, powerful marasa, feel able / can, to feel useful in didupnya. Needs of the most important or highest if all requirements are met then the individual will feel free to display all its full potential. Basically to be actualize itself include the need to know, understand to satisfy the cognitive aspects of the most fundamental.

Teacher as an educator should know what is wanted by the sisiwanya. Such as need for achievement, because every student has different needs to excel each other. Not a few students who have low achievement motivation, they tend to fear failure and do not want to bear the risk in achieving a high learning achievement. Although there are many students who have a high motivation for achievement. Students have high achievement motivation if the desire for success really comes from within ourselves. Students will work hard both in themselves and in competing with other students.

Students who come to school have a wide understanding of himself as a whole and an understanding of their own particular skills. They have a certain image of himself as a man and about the ability in dealing with the environment. This is a stamp or a label owned by students about themselves and the possibility can not be seen by the teacher but it is affecting students' learning activities. Picture began to form through interaction with others, ie family and peers and other adults, and this is affecting academic achievement in school.

Based on the above views may be taken notion that students come to school with a picture of himself that has been formed. Though so, permanent teachers can influence students organized also establish a feeling about him that, in order to achieve a feeling of individual students are more positive. If a teacher likes to criticize, criticize, or even undermined the ability of students, then students akn tend to judge themselves as someone who is not capable of achievement in learning. This applies especially to children kindergarten or elementary school is still very young. As a result, interest in learning to be down. Conversely, if the teacher gives penhargaan, being supportive in assessing student achievement, the more likely the students would rate themselves as being capable of achievement. Awards for achievement is an encouragement to motivate students to learn. Intellectual impetus is the desire to achieve a great achievement, while the drive to achieve success, including emotional needs, the need for achievement.

Citing the opinion of Mc. Donald (Tabrani, 1992: 100), "Motivation is the energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction." Motivation is something changes in one's personal energy that marked the onset of affective and the reaction to reach the goal. Of the proposed formulation of Mc. Donald contains three inter-related elements, namely: 1) motivation starts from a change in personal energy, 2) motivation is characterized by the emergence of feelings (affective arousal), 3) motivation is characterized by reactions to achieve the goal.

From the above description is clear that motivation is closely related with a purpose. The more valuable it is for the purpose in question, the more powerful it motivation. So motivation is very useful for one's actions or deeds. Explanation of the motivation functions are:

A. Encourage people to act / do. Pengerak serve as motivation or motor that delivers energy / force someone to do something.
2. Determine the direction of action. Ie towards the realization of goals or ideals. Motivation to prevent diversion of the path that must be taken to achieve the goal. Increasingly clear that goal, the clearer the way to go.
3. Selecting actions. Means to determine which actions should be performed, matching, in order to achieve that goal with a rule act which is not useful for the purpose. (Ngalim Purwanto, 2002: 71)

The types of motivation
A. Intrinsic motivation, which arise from within the individual, such as the desire to have certain skills, obtain information and understanding, develop an attitude to work, enjoying life, the desire to be accepted by others.
2. Extrinsic motivation, which arise because of the influence of outside individuals. Just as a gift, compliments, invitations, messenger, or coercion from others, so with such a situation people want to do something. (Tabrani, 1992: 120)

Then how can any ways to improve students' motivation so they have a high achievement motivation, especially for those low in achievement motivation. There are several strategies that can be used by teachers to foster students' motivation, as follows:
A. Explain the purpose of learning to the learners. At the beginning of the teaching and learning should be a teacher explains the purpose of Special Instructional Technology (ICT) to be achieved by students. Not quite up there alone, but teachers can also provide an explanation of the importance of science that will be very useful for the future of a person, either by religious or social norms. The more clearly the purpose, then the greater the motivation to learn.

2. Prize. Give prizes to students who excel Siwa. This will greatly encourage the students to be more active in achievement, and achievement for students who have not will be motivated to pursue or even outperformed students who had been accomplished. Prize here do not necessarily have a large and expensive, but can cause a sense of senag on students, because it was appreciated for his performance. Except at the end of each semester, the teacher can give a special gift (such as books) for students ranking 1-3.

3. Rival / competition. The teacher tried to hold a competition among students to improve academic achievement, seek to improve the results of previous achievements.

4. Praise. It is appropriate for students who excel are given awards or honors. Surely constructive praise. Can be started from the most minor things like, "give applause to the Budi ...", "good work ...", "well that you could ...".

5. Punishment. The punishment given to students who make mistakes while learning process. Punishment is administered in the hope that the students are willing to change ourselves and try to stimulate learning motivation. The punishment here should be an educational, such as memorization, work on the problems, or make rangkuaman. Should not that be physical, such as sweeping the class, standing in front of the class, or ran around the schoolyard. Since this clearly will disturb the psychic student.

6. Generating a boost to the students to learn. The strategy is to give maximum attention to students, especially for those who are left behind by the other student achievement. Here, teachers are required to be more observant of the condition of their students. Remember this is not the only task guidance and counseling teachers (BK) alone, but it is the duty of every teacher, as one who had believed the parents to educate their children.

7. Forming good study habits. Teach students how to learn the good, whether it's when students learn on their own or as a group. In this way students are expected to be more motivated in learning or re-mengulan add to the understanding of the books that support.

8. Help the learning difficulties of individual students and groups. This can be done as the number 6.

9. Using the methods vary. Teachers should choose appropriate learning methods and varied, which can evoke the spirit of the students, who do not make students feel bored, and that is not less important is being able to accommodate all students' interests. Just as Cooperative Learning, Contectual Teaching & Learning (CTL), Quantum Teaching, Active Learning, mapun others. Because students have a level of intelligence different from each other. There are students who only took 5 minutes to understand the material, but there are students who need 25 minutes of new material he could digest. It's easy example. The more controlled method of teaching by a teacher, then he will be more successful in increasing students' motivation.

10. Use good media and in accordance with the learning objectives. Both the visual and audio visual media.

Resources:
Goleman, Daniel, Emotional Intelligence Intelligence Emitional Why is More Important Than IQ EQ, Jakata: PT Scholastic Press, 2004.
Ngalim Purwanto, Educational Psychology, New York: PT. Teen Rosdakarya, 2002.
Tabrani Rusyan, Approaches to Teaching and Learning, London: PT. Teen Rosdakarya, 2001.

Jogjakarta, Saturday, January 15, 2010

No comments:

Post a Comment